Menjadi Bangsa yang Mandiri dan Beridentitas

Oleh Adang Daradjatun
Perayaan tahun baru 2009 telah lewat satu bulan. Pada saat yang hampir bersamaan, kita juga merayakan peringatan Tahun Hijriyah 1430. Meski terlalu dini untuk melakukan evaluasi, namun ada beberapa hal pokok yang sepertinya belum menjadi landasan pemikiran untuk mengadakan evolusi tindakan di tahun baru ini.

Semestinya, momentum tahun baru adalah upaya yang baik membuat kerangka berpikir yang jernih tentang bagaimana membangun sebuah bangsa yang baik, maju dan menyejahterakan. Hijrah (berpindah) adalah salah satu pilihan dalam masa sekarang ini untuk membuat perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan tentang cara berpikir, membuat solusi dan melangkah ke depan demi perbaikan bangsa.

Berbagai peristiwa yang telah dijalani dalam satu bulan terakhir belum cukup maksimal untuk dapat menjelaskan indikator bahwa kita sedang melakukan perubahan. Yang terjadi justru, para elit politik asik dengan program dan cara untuk dapat meraih simpati dari masyarakat demi kepentingan sesaat. Saling serang lewat media menjadi pilihan pertama untuk menjegal lawan. Dalil kemiskinan justru menjadi senjata untuk melumpuhkan saingan.

Adalah benar bahwa tahun 2009 adalah gerbang menuju perbaikan. Di tahun ini masyarakat akan memilih para wakilnya duduk di Dewan Perwakilan Rakyat/Daerah, dan juga pemimpin nasional sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Melalui tahun ini diharapkan pilihan rakyat benar-benar menjadi kaca cermin bagi pemilihnya. Artinya, mereka yang terpilih tidak saja mampu menangkap aspirasi, tetapi juga mampu membuat dan bertindak demi kepentingan rakyatnya.

Menuju 2015

Tahun ini adalah tahun keputusan dimana segala aspek yang berkaitan dengan kesejahteraan bangsa ini akan dipersiapkan dan diprogramkan untuk bersaing di tahun 2015. Pada tahun tersebut, sebagaimana yang dicanangkan oleh beberapa negara ASEAN disepakati sebagai pintu dibukanya pasar bebas tingkat ASEAN (ASEAN Free Tade Area/AFTA). Artinya, pemimpin dan wakil yang terpilih di tahun ini menjadi kunci siap tidaknya negara ini memasuki pasar bebas di tingkat lokal (ASEAN).

Meski tinggal enam tahun lagi, AFTA sesungguhnya sangat strategis untuk lebih meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia. Ini akan tercapai bila rancangan yang dibuat mampu memberikan output yang menjanjikan bagi rakyat. Jika salah dalam menentukan program prioritas, maka negara yang mempunyai potensi sumber daya alam dan manusia luar biasa ini hanya bisa menjadi penonton setia dan tak mampu menjadi pelaku utama.

Kunci siap menghadapi era perdagangan bebas tidak ditandai dengan pengurungan sikap demi mempertahankan diri, tetapi justru membuka luas persaingan. Sikap tertutup hanyalah satu alasan tentang ketidaksiapan. Dan ketidaksiapan, adalah pilihan buruk untuk tetap jalan di tempat atau bahkan mundur ke belakang.

Alasan sikap ketertutupan demi mempertahankan identitas kebangsaannya tidaklah terlalu tepat. Sebuah bangsa yang besar, adalah bangsa dimana masyarakatnya mampu mengaktualisasikan diri di tingkat lebih luas dengan tetap mempertahankan identitas yang melekat di badannya. Artinya, keterbukaan tidak harus dibarengi dengan ketelanjangan bertingkah laku (sebebas-bebasnya), tetapi justru harus dikuatkan dengan penunjukan identitas diri yang sebenarnya.

Bangsa Indonesia yang mempunyai ragam suku dan budaya dapat menjadi ajang jual yang kompetitif di era AFTA ke depan. Kasus Reog, Batik dan Angklung yang diaku negara lain bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Bahwa kita mampu memperkenalkan dan menginternasionalisasikan budaya ini, yang demikian menjadi tugas bersama. Tidak saja bagi eksekutif, legislatif dan yudikatifnya, tugas ini juga menjadi tugas bersama rakyat Indonesia yang terus bangga dengan tradisinya dan mampu mempertahankan serta mengembangkannya.

AFTA memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi bangsa yang mandiri. Dengan AFTA kita dituntut untuk dapat segera menyelesaikan persoalan dalam negeri secara cepat dan tepat. Kerangkanya adalah penegakan hukum secara tegas dengan melindungi para pemegang haknya secara adil dan melaksanakan program yang berkelanjutan demi perbaikan dan kesejahteraan rakyatnya. Bila AFTA telah mampu kita lalui dengan baik, niscaya perdagangan bebas dunia akan lebih mudah dijalani.

Era itu dirancang dari mulai sekarang, saat pemilu dilaksanakan dan para pemilih telah menentukan sikapnya. Lima menit di bilik suara sangat menentukan nasib lima tahun mendatang pada pemilu 2009 nanti. Siapkah kita memilih calon yang sesuai?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *